PKM Mengkubang
  • Login
  • Register
  • Beranda
  • Berita
  • Artikel Kesehatan
  • Profil
    • Tentang
    • Struktur Organisasi
    • Visi & Misi
    • Peta Lokasi
  • Pelayanan
    • Maklumat Pelayanan
    • Jenis Pelayanan
    • Standar Pelayanan
    • SOP Layanan
  • Inovasi
    • SIGESITE PIS-PK
  • Galeri
    • Foto
    • Video
  • Hubungi Kami
    • Kontak
    • Keluhan dan Saran
  • FAQ
No Result
View All Result
PKM Mengkubang
  • Beranda
  • Berita
  • Artikel Kesehatan
  • Profil
    • Tentang
    • Struktur Organisasi
    • Visi & Misi
    • Peta Lokasi
  • Pelayanan
    • Maklumat Pelayanan
    • Jenis Pelayanan
    • Standar Pelayanan
    • SOP Layanan
  • Inovasi
    • SIGESITE PIS-PK
  • Galeri
    • Foto
    • Video
  • Hubungi Kami
    • Kontak
    • Keluhan dan Saran
  • FAQ
No Result
View All Result
PKM Mengkubang
No Result
View All Result

Dokter Rehabilitasi ungkap pencegahan kusta jadi hal krusial dilakukan

PKM Mengkubang by PKM Mengkubang
4 Feb, 2025
0 0
0
Dokter Rehabilitasi ungkap pencegahan kusta jadi hal krusial dilakukan
Share on FacebookShare on Twitter

[ad_1]

Jakarta (ANTARA) – Dokter Rehabilitasi Medis Luh Karunia Wahyuni mengungkapkan, pencegahan kusta menjadi hal penting yang untuk dilakukan guna mengendalikan penularan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae.

“Setelah dipelajari itu tadi masalahnya bukan penyakit (kusta) sendiri, itu sudah ada tantangan pengobatan, tapi kita harus memikirkan pencegahan kalau ada deformitas (perubahan bentuk atau kerusakan pada bagian tubuh) kita harus mencegah lagi,” ujar dokter Luh dalam webinar yang dipantau secara daring di Jakarta, Selasa.

Pencegahan, kata dia menjadi hal krusial yang harus dilakukan sejak awal, pasalnya penyakit kusta selain bersifat kronis juga memiliki gejala utama yakni menyerang syaraf tepi.

Serangan bakteri pada syaraf tepi berimbas tak adanya sensasi rangsangan seperti tidak mampu merasakan suhu, tekanan rasa sakit atau disebut mati rasa di sejumlah bagian tubuh misalnya mata, tangan, wajah hingga kaki.

Baca juga: RI akselarasi langkah eliminasi kusta dan kaki gajah pada 2030

“Misalnya pasien ada luka banyak di telapak kaki tidak merasakan ada luka, tentu ada infeksi yang berikutnya dan jangan lupa misalnya ternyata pasien merokok, ada diabetes dan lambat laun tergesek, tertekan terus, tergesek terus tidak merasakan apapun lama-lama menjadi tulangnya menjadi kontraktur (kaku), sendi menjadi tak bisa digerakkan lambat laun karena lemah jadi respons itu itu tulangnya bisa lepas itu yang ditakutkan,” jelasnya.

Dengan kondisi itu maka tak hanya penyembuhan dari bakteri penyebab kusta, namun juga diperlukan penyembuhan melalui rehabilitasi medis.

Rehabilitasi medis menjadi hal yang patut dilakukan, hal ini untuk memperbaiki kerusakan lain yang diakibatkan serangan awal dari bakteri. Mati rasa di sejumlah bagian tubuh yang menjadikan bagian tubuh menjadi kaku serta kurang merespons sejumlah rangsangan dapat diobati melalui rehabilitasi medis.

Baca juga: Akademisi: Kerja sama perlu dibentuk untuk capai Indonesia nol kusta

Gangguan di sejumlah bagian tubuh tersebut lantas mengganggu aktivitas sehari-hari, seperti kemampuan tangan menggenggam, kaki menapak saat dan lainnya.

“Itulah pentingnya ada tindakan rehabilitasi, dampak-dampak ikutannya itu sudah ada dari awal harus diobati,” kata dokter Luh.

Dirinya pun menyerukan kepada berbagai pihak untuk bersama-sama mengeliminasi penyakit kusta melalui pencegahan serta mengidentifikasi gejala awal penyakit kusta. Terlebih di sejumlah wilayah di Indonesia diakuinya masih terdapat kantong-kantong atau daerah yang menjadi endemik kusta yang belum dapat teratasi yang menyebabkan Indonesia masuk dalam jajaran nomor 3 negara dengan penyakit kusta terbesar.

“Kemudian seringkali berada di wilayah yang memang ada kantong-kantong di Indonesia yang harus diakui belum bisa kita tuntaskan. Kita, Indonesia masih nomor 3 di dunia yang belum teratasi sehingga ini jadi tantangan untuk mengatasi,” jelasnya.

Baca juga: Kemenkes: 5,75 persen pasien kusta di Indonesia alami cacat

Baca juga: Kusta yang tak tertangani bisa sebabkan kecacatan

Pewarta: Sinta Ambarwati
Editor: Zita Meirina
Copyright © ANTARA 2025

[ad_2]

Source link

Previous Post

Senam Sehat Gembira/ Kelompok 1/ anak Paud

Next Post

Dokter spesialis : Teknologi medis untuk kusta patut dikembangkan

PKM Mengkubang

PKM Mengkubang

Mitra unggul mewujukan masyarakat kecamatan Damar sehat dan  mandiri  

Please login to join discussion

Terbaru

4 Alasan Dokter Gigi Belum Bisa Mencabut Gigi Pasien

4 Alasan Dokter Gigi Belum Bisa Mencabut Gigi Pasien

9 Jan, 2026
11
Rekapitulasi Penanganan Pengaduan di UPT Puskesmas Mengkubang Tahun 2025

Rekapitulasi Penanganan Pengaduan di UPT Puskesmas Mengkubang Tahun 2025

6 Jan, 2026
14
DBD Bukan Ancaman Berarti! Jika Kamu Menerapkan Disiplin Ini!

DBD Bukan Ancaman Berarti! Jika Kamu Menerapkan Disiplin Ini!

29 Des, 2025
7
4 Tips Menjaga Kesehatan di Musim Hujan

4 Tips Menjaga Kesehatan di Musim Hujan

9 Jan, 2026
14
Kenapa Kualitas Air Minum di Rumah Harus Diperiksa?

Kenapa Kualitas Air Minum di Rumah Harus Diperiksa?

3 Des, 2025
25
Facebook Instagram Youtube RSS

Hubungi Kami

Halo Puskesmas (Telp./ SMS/ WA)

0812-7877-8447

RTGD 24 Jam (Telp./ SMS/ WA)

0877-1342-2277

Alamat

Jalan Pasar Damar Desa Mengkubang Kecamatan Damar

© 2020 UPT Puskesmas Mengkubang

  • Login
  • Sign Up
  • Beranda
  • Berita
  • Artikel Kesehatan
  • Profil
    • Tentang
    • Struktur Organisasi
    • Visi & Misi
    • Peta Lokasi
  • Pelayanan
    • Maklumat Pelayanan
    • Jenis Pelayanan
    • Standar Pelayanan
    • SOP Layanan
  • Inovasi
    • SIGESITE PIS-PK
  • Galeri
    • Foto
    • Video
  • Hubungi Kami
    • Kontak
    • Keluhan dan Saran
  • FAQ

© 2020 UPT Puskesmas Mengkubang

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Butuh bantuan?
WhatsApp
Ada yang bisa kami bantu?